
Jika Anda penasaran dengan pola makan yang belakangan makin banyak dilakukan untuk membantu mengatur berat badan, intermittent fasting bisa jadi salah satunya. Namun, sebelum ikut mencoba menerapkannya, penting untuk tahu apa itu intermittent fasting dan bagaimana pola ini sebenarnya bekerja.
Pasalnya cara intermittent fasting tidak selalu berarti harus menahan lapar selama mungkin. Ada beberapa pola yang bisa disesuaikan dengan rutinitas dan kemampuan tubuh, sehingga Anda tetap bisa melakukan diet dengan nyaman dan konsisten.
Apa Itu Intermittent Fasting?
Intermittent fasting atau puasa intermiten adalah pola makan yang mengatur waktu seseorang untuk makan dan berpuasa dalam jangka waktu tertentu. Jenis diet ini berbeda dengan diet umum lainnya yang lebih menekankan pada jenis atau jumlah asupan makanan.
Intermittent fasting terdiri dari waktu makan dan waktu puasa. Selama periode makan, Anda tetap bisa mengonsumsi makanan seperti biasa, sedangkan pada waktu puasa, asupan kalori dibatasi atau dihentikan.
Seseorang yang melakukan diet dengan cara intermittent fasting tetap butuh asupan untuk jangka waktu yang cukup lama. Namun, asupan yang dibutuhkan tersebut harus diatur dengan lebih bijak dengan sistem pengaturan waktu.
Ketika tubuh tidak mendapatkan energi dari makanan dalam periode tertentu, tubuh secara bertahap menggunakan cadangan energi yang tersimpan. Inilah yang kemudian menjadi salah satu alasan intermittent fasting banyak digunakan sebagai strategi pengelolaan berat badan.
Meski begitu, intermittent fasting bukan metode ajaib. Jika selama periode makan seseorang tetap mengonsumsi kalori secara berlebihan, hasil penurunan berat badan bisa menjadi kurang optimal. Konsistensi, kualitas makanan, aktivitas fisik, dan total asupan harus tetap menjadi pelengkap dari intermittent fasting.
Jenis-Jenis Intermittent Fasting
Ada beberapa metode intermittent fasting yang umum digunakan. Anda bisa memilih pola berdasarkan rutinitas dan kemampuan tubuh. Berikut jenis-jenis intermitteng fasting yang bisa Anda pertimbangkan.
1. Metode 16:8
Anda berpuasa selama 16 jam dan memiliki waktu makan selama 8 jam. Contohnya, waktu makan dimulai pukul 10.00 hingga 18.00, kemudian dilanjutkan dengan periode puasa sampai pukul 10.00 keesokan harinya.
2. Metode 12:12
Pola ini membagi waktu sehari menjadi 12 jam untuk makan dan 12 jam untuk berpuasa. Metode 12:12 bisa menjadi pilihan awal bagi orang yang baru mencoba intermittent fasting karena durasi puasanya relatif lebih hampir sama dengan puasa Ramadan di Indonesia pada umumnya.
3. Metode 5:2
Dalam pola ini, Anda makan seperti biasa selama lima hari dalam seminggu, kemudian membatasi asupan kalori pada dua hari lainnya.
Metode ini jauh lebih ketat melibatkan pembatasan kalori yang cukup signifikan pada hari tertentu, sehingga sebaiknya dilakukan dengan memastikan kondisi tubuh terlebih dahulu.
4. Alternate-day Fasting
Sesuai namanya, metode ini mengatur pola makan dan puasa secara bergantian. Karena lebih ketat, metode ini tidak selalu cocok untuk pemula.
Cara Melakukan Intermittent Fasting yang Efektif
Perlu Anda ingat, tidak ada satu metode yang otomatis paling efektif untuk semua orang. Intermittent fasting secara umum memang terbukti dapat membantu menurunkan berat badan, tetapi manfaatnya tidak bisa langsung diasumsikan lebih ampuh dibandingkan pembatasan kalori biasa yang masih banyak diterapkan pelaku diet.
Selain itu, Anda sebaiknya tidak hanya berfokus pada lamanya waktu puasa jika ingin mencoba intermittent fasting. Beberapa hal berikut juga perlu diperhatikan agar pola makan ini tetap sehat dan realistis.
1. Mulai dari Durasi yang Ringan
Tidak perlu langsung memulai dengan puasa 16 atau 18 jam. Cara intermittent fasting yang baik adalah dengan mencoba pola 12:12 terlebih dahulu untuk membiasakan tubuh dengan perubahan jadwal makan. Setelah mulai terbiasa, durasi puasa dapat disesuaikan secara bertahap.
Tujuannya bukan untuk membuat tubuh kelaparan, melainkan menemukan pola waktu makan yang bisa dipertahankan dalam jangka panjang.
2. Tetap Perhatikan Kualitas Makanan
Cara intermittent fasting yang buruk adalah tidak memperhatikan kualitas gizi makanan selama berada dalam periode makan. Justru, makanan yang bergizi tetap penting untuk memenuhi kebutuhan tubuh.
Makan makanan yang bergizi adalah aktivitas mencukupi asupan makanan yang mencakup karbohidrat, protein, vitamin, mineral, hingga lemak sehat. Asupan tersebut juga harus dalam porsi yang cukup dan seimbang.
Dengan begitu, waktu makan tidak hanya digunakan untuk memenuhi rasa lapar dengan mengonsumsi apapun makanan yang ada, tetapi juga membantu memenuhi kebutuhan nutrisi harian.
3. Jangan “Balas Dendam” Saat Waktu Makan
Salah satu cara intermittent fasting yang salah adalah menganggap waktu makan sebagai kesempatan untuk mengonsumsi makanan dalam jumlah berlebihan. Padahal, asupan kalori tetap berpengaruh terhadap berat badan.
Jadi, setelah periode puasa selesai, tetap makan dalam porsi yang wajar dan tetap menerapkan konsep empat sehat lima sempurna. Intermittent fasting sebaiknya menjadi cara untuk mengatur pola makan, bukan alasan untuk makan berlebihan.
4. Cukupi Asupan Cairan
Selama menjalani intermittent fasting, jangan lupa menjaga tubuh tetap terhidrasi. Air putih dapat menjadi pilihan utama untuk memenuhi kebutuhan cairan.
Sementara itu, minuman tinggi gula bukan termasuk bagian dari cara intermittent fasting yang baik. Jika mengonsumsi jenis minuman tersebut secara berlebihan, tubuh Anda hanya akan menimbun banyak kalori buruk.
Kebutuhan cairan setiap orang juga berbeda sehingga penting untuk menyesuaikannya dengan aktivitas, lingkungan, dan kondisi tubuh.
5. Tetap Aktif dan Cukup Tidur
Menjalankan intermittent fasting saja belum tentu cukup untuk mendapatkan hasil yang optimal. Aktivitas fisik dan tidur yang cukup juga berperan dalam menjaga kesehatan secara keseluruhan.
Cara intermittent fasting yang efektif melibatkan kedisiplinan dalam mengatur jam makan yang juga didukung oleh beberapa aktivitas fisik rutin, seperti berjalan kaki, latihan kekuatan, bersepeda, atau olahraga lain yang sesuai dengan kemampuan.
Siapa yang Sebaiknya Tidak Direkomendasikan Melakukan Intermittent Fasting?
Meskipun cukup populer, intermittent fasting tidak selalu cocok untuk semua orang. Beberapa kalangan sebaiknya berkonsultasi dengan dokter terlebih dahulu, termasuk:
- Anak-anak dan remaja di bawah 18 tahun.
- Ibu hamil atau menyusui.
- Orang dengan diabetes tipe 1 yang menggunakan insulin.
- Orang yang memiliki riwayat gangguan makan atau eating disorder.
- Orang yang memiliki kondisi kesehatan tertentu atau sedang mengonsumsi obat-obatan tertentu.
Bagikan Momen Intermittent Fasting Anda di Medsos dengan PRIO Ultra 5G+ XL PRIORITAS
Intermitteng fasting tidak semata-mata dilakukan untuk menguji kemampuan tubuh menahan lapar dalam periode tertentu, tetapi juga dilakukan untuk menerapkan pola hidup yang lebih sehat dan realistis, sesuai dengan kondisi tubuh dan saran profesional.
Dengan demikian, mencari informasi terkait apa itu intermittent fasting sangat diperlukan agar Anda dapat menurunkan berat badan dengan cara yang lebih sehat dan bijak. Namun, sering kali informasi tersebut sulit diakses karena koneksi internet yang lemah.
Sudah saatnya Anda beralih ke koneksi yang lebih cepat dan stabil dengan PRIO Ultra 5G+ XL PRIORITAS. Dengan kecepatan internet hingga 500 Mbps, jaringan ini menawarkan koneksi hingga 10x lebih cepat dari 4G, sehingga cocok untuk mengunduh atau mengakses dokumen seputar intermittent fasting tanpa menunggu lama.
Aktifkan paketnya sekarang juga melalui aplikasi myXL!



